Dua Wajah Indonesia Yudi Latif

Selasa, 26 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, sumatraterkini.id-Saudaraku, orang Indonesia tumbuh dengan ajaran lembut: menghormati yang tua, ringan tangan pada tetangga, ramah pada tamu asing. Kita pandai tersenyum, menjaga perasaan, dan menolong sesama.

Tetapi ada yang ganjil. Kelembutan itu sering berhenti di pagar rumah dan lingkar kelompok sendiri. Begitu memasuki ruang publik, wajah kita berubah. Di jalan orang saling serobot; dalam politik saling jegal: hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Hak publik dirampas, identitas dapat berubah jadi korek api.

Kita hangat dalam hubungan personal, tetapi dingin terhadap kepentingan bersama.

Wajah mendua ini mungkin sebagian merupakan residu kolonialisme: ruang publik dahulu berada di bawah otoritas asing, sementara rakyat pribumi bertahan dalam orbit komunitasnya sendiri, yang kerap berseberangan dengan negara.

Akibatnya, loyalitas kepada kelompok terasa lebih nyata daripada tanggung jawab terhadap ruang publik bersama.

Karena itu kita lebih banyak dididik menjadi “orang baik” dalam komunitas, bukan menjadi warga negara dewasa. Kesopanan kita komunal, belum sepenuhnya sipil. Kita tahu menjaga perasaan orang yang dikenal, tetapi belum terbiasa menghormati hak orang secara impersonal.

Lahirlah watak sosial yang aneh: santun kepada tamu, tetapi kejam merusak sarana publik; fasih bicara moral, tapi permisif pada rasuah; tekankan kepentingan umum, tapi jabatan menjadi warisan keluarga: ramah dalam percakapan, tetapi ugal-ugalan di jalanan. Kebaikan masih dipahami sebagai urusan hati, bukan tanggung jawab bersama.

Padahal peradaban dibangun bukan oleh keramahan semata, melainkan oleh disiplin terhadap hukum, aturan, integritas, rasa bersalah dan malu ketika merugikan publik. Bangsa besar tidak diukur dari kesantunan saat berbicara, melainkan dari ketertiban saat tidak diawasi.

Indonesia tidak kekurangan orang baik. Yang masih kurang adalah warga negara yang sadar bahwa kebaikan pribadi belum tentu melahirkan keadaban publik.

Kita perlu mendidik manusia Indonesia bukan hanya agar sopan, tetapi juga agar beradab dalam ruang publik. Tanpa keadaban publik, keramahan hanya akan menjadi topeng indah di wajah masyarakat yang diam-diam saling melukai. (**)

Berita Terkait

Idul Adha 1447 Hijriah: SMSI Sumut Bersama STIK-P Sembelih Hewan Kurban
GEM Salurkan Hewan Kurban Kepada Masyarakat dan Karyawan Bahodopi
Qori-Qoriah Indonesia Dominasi MTQ Internasional Jakarta Tahun 2026, Rebut Piala Bergilir Wakil Presiden RI
Kejaksaan Agung Tetapkan Anggota Ombudsman RI YHF Tersangka Perintangan Perkara Ekspor CPO
Mantan Kepala Bais Ponto Desak Presiden Pakai Diskresi untuk Selamatkan Ombudsman
Sengkon dan Karta Jadi Pengingat Bagi Para Penegak Hukum
Wakajati Sumsel Pimpin Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV di Lingkungan Kejati
Dari Lensa Jadi Warisan! Taman Safari Bawa Biodiversitas Indonesia Mendunia Lewat IAPVC

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 03:06

Idul Adha 1447 Hijriah: SMSI Sumut Bersama STIK-P Sembelih Hewan Kurban

Kamis, 28 Mei 2026 - 02:57

GEM Salurkan Hewan Kurban Kepada Masyarakat dan Karyawan Bahodopi

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:30

Qori-Qoriah Indonesia Dominasi MTQ Internasional Jakarta Tahun 2026, Rebut Piala Bergilir Wakil Presiden RI

Selasa, 26 Mei 2026 - 03:12

Dua Wajah Indonesia Yudi Latif

Selasa, 26 Mei 2026 - 03:07

Kejaksaan Agung Tetapkan Anggota Ombudsman RI YHF Tersangka Perintangan Perkara Ekspor CPO

Berita Terbaru

Nasional

Dua Wajah Indonesia Yudi Latif

Selasa, 26 Mei 2026 - 03:12