Data BI Bongkar Fakta Baru, Samuel F Silaen Sebut Rakyat Kini Lebih Cemas

Rabu, 13 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, sumatraterkini.id- Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen, menilai kondisi keyakinan konsumen Indonesia pada April 2026 masih menunjukkan optimisme, namun mulai dibayangi kekhawatiran masyarakat terhadap prospek ekonomi beberapa bulan ke depan. Hal itu disampaikan Samuel Silaen dalam menanggapi hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 berada di level 123,0.

Menurut Samuel, angka tersebut memang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia secara umum masih percaya terhadap kondisi ekonomi nasional karena indeks masih berada di atas level 100. Namun, ia mengingatkan adanya sinyal perlambatan yang cukup signifikan yang tidak boleh dianggap sepele, terutama pada sisi ekspektasi masyarakat terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan aktivitas usaha ke depan.

“Kalau kita melihat data BI terlepas akurat atau tidak, memang keyakinan konsumen masih optimistis. Tetapi optimisme itu sekarang mulai lebih berhati-hati. Ada semacam kewaspadaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi beberapa bulan mendatang,” ujar Samuel Silaen kepada awak media, Senin (12/5/2026).

Ia menilai kenaikan tipis IKK dari 122,9 menjadi 123,0 belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan ekonomi yang benar-benar kuat. Sebab, pada saat bersamaan, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru mengalami penurunan menjadi 129,6 dibanding bulan sebelumnya di level 130,4.

Menurut Silaen, kondisi tersebut menggambarkan bahwa masyarakat saat ini masih merasa was-was atas kondisi ekonomi relatif kurang stabil, namun banyak pihak mulai meragukan apakah situasi tersebut bisa bertahan hingga enam bulan ke depan?.

“Yang harus dicermati bersama bukan hanya angka optimisme hari ini, tetapi arah ekspektasi masyarakat harus dibaca sebagai warning serius. Kalau ekspektasi terus turun, itu menandakan publik mulai menahan keyakinannya terhadap masa depan ekonomi,” katanya.

Samuel juga menyoroti turunnya Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) yang dinilai menjadi indikator penting perlambatan sentimen masyarakat terhadap dunia usaha. Dalam empat bulan pertama 2026, indeks tersebut turun cukup tajam dari 135,3 menjadi 124,1.

Menurutnya, penurunan itu bisa dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun domestik, mulai dari tekanan ekonomi global, fluktuasi harga energi dan impor pangan yang melonjak tajam, nilai tukar rupiah, hingga kondisi daya beli masyarakat terus melemah.

“Pelaku usaha dan masyarakat sekarang sama-sama membaca adanya ketidakpastian global yang sangat berdampak pada ekonomi dalam negeri Indonesia. Situasi geopolitik dunia, tekanan harga kebutuhan pokok, hingga kondisi pasar tenaga kerja ikut memengaruhi psikologi ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Samuel menambahkan, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok yang terjangkau dan memperkuat penciptaan lapangan kerja agar optimisme masyarakat tidak terus melemah. Ia menilai jika tren penurunan ekspektasi dibiarkan berlanjut, maka konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang ekonomi nasional bisa ikut terdampak.

“Kalau masyarakat mulai menahan belanja karena khawatir kondisi ekonomi memburuk, maka pertumbuhan ekonomi nasional juga bisa ikut melambat,” tegasnya.

Meski demikian, Silaen menilai kondisi saat ini belum masuk kategori mengkhawatirkan karena seluruh indeks konsumen masih berada di zona optimistis. Namun ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan angka-angka pertumbuhan semata tanpa membaca psikologi masyarakat ditingkat grassroots yang mulai berubah lebih hati-hati.

“Optimisme masyarakat masih ada karena ditopang oleh subsidi- subsidi yang diberikan pemerintah tapi itu bukan gratis karena subsidi didapatkan dari penebalan jumlah hutang Luar Negeri yang sudah hampir mencapai 10.000Triliun, namun demikian sekarang harus dibarengi sikap waspada dan kehati-hatian yang tinggi mengenai situasi ekonomi yang sudah stagnan. Itu yang harus dibaca serius oleh pemerintah,” pungkasnya. (**)

Berita Terkait

Idul Adha 1447 Hijriah: SMSI Sumut Bersama STIK-P Sembelih Hewan Kurban
GEM Salurkan Hewan Kurban Kepada Masyarakat dan Karyawan Bahodopi
Qori-Qoriah Indonesia Dominasi MTQ Internasional Jakarta Tahun 2026, Rebut Piala Bergilir Wakil Presiden RI
Dua Wajah Indonesia Yudi Latif
Kejaksaan Agung Tetapkan Anggota Ombudsman RI YHF Tersangka Perintangan Perkara Ekspor CPO
Mantan Kepala Bais Ponto Desak Presiden Pakai Diskresi untuk Selamatkan Ombudsman
Sengkon dan Karta Jadi Pengingat Bagi Para Penegak Hukum
Wakajati Sumsel Pimpin Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV di Lingkungan Kejati

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 03:06

Idul Adha 1447 Hijriah: SMSI Sumut Bersama STIK-P Sembelih Hewan Kurban

Kamis, 28 Mei 2026 - 02:57

GEM Salurkan Hewan Kurban Kepada Masyarakat dan Karyawan Bahodopi

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:30

Qori-Qoriah Indonesia Dominasi MTQ Internasional Jakarta Tahun 2026, Rebut Piala Bergilir Wakil Presiden RI

Selasa, 26 Mei 2026 - 03:12

Dua Wajah Indonesia Yudi Latif

Selasa, 26 Mei 2026 - 03:07

Kejaksaan Agung Tetapkan Anggota Ombudsman RI YHF Tersangka Perintangan Perkara Ekspor CPO

Berita Terbaru

Nasional

Dua Wajah Indonesia Yudi Latif

Selasa, 26 Mei 2026 - 03:12