KAS dan Universitas Paramadina Luncurkan Karya Intelektual Ekonomi Pancasila

Rabu, 13 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, sumatraterkini.id- Universitas Paramadina bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) secara resmi meluncurkan buku berjudul “The Pancasila Market Economy” di Jakarta, Senin (11/5).

Karya ini merupakan hasil kolaborasi intelektual selama bertahun-tahun yang bertujuan memperkuat konsep Ekonomi Pancasila melalui pertukaran gagasan lintas negara.

Direktur KAS untuk Indonesia dan Timor-Leste, Dr. Denis Suarsana, menyatakan bahwa buku ini merepresentasikan kemitraan erat selama lebih dari satu dekade antara KAS dan Universitas Paramadina.

Senada dengan hal tersebut, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, mengapresiasi karya ini sebagai upaya mencari bentuk ekonomi Indonesia yang semakin matang dan sesuai dengan mandat konstitusi.

Keseimbangan Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab Dalam sesi keynote speech, Haris Munandar, Ph.D. dari Bank Indonesia menekankan bahwa Indonesia membutuhkan sistem ekonomi yang menyeimbangkan kompetisi dengan solidaritas, serta efisiensi dengan keadilan.

Sementara itu, Asisten Deputi Kementerian UMKM, Dr. Ali, menyoroti pentingnya kebijakan berbasis data yang berpihak pada pelaku UMKM selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani, memberikan pandangan bahwa dalam konsep Ekonomi Pasar Pancasila, pasar berfungsi sebagai instrumen yang tetap harus diarahkan oleh negara sebagai regulator dan pelindung. “Pasar tetap bekerja, tetapi tidak dibiarkan sepenuhnya tanpa arah dan koreksi,” tegas Shinta.

Tantangan Demokrasi dan Keberlanjutan Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto, menjelaskan bahwa konsep ini hadir untuk mengambil sisi positif dari kapitalisme dan sosialisme tanpa meninggalkan akar nilai luhur bangsa.

Di sisi lain, Prof. Marcus Marktanner dari Kennesaw State University mengingatkan pentingnya memperkuat demokrasi sebagai fondasi pembangunan ekonomi di tengah risiko ketidakpastian global.

Menutup diskusi, Senior Fellow The Habibie Center, Umar Juoro, mengingatkan bahwa ketimpangan ekonomi adalah hambatan utama dalam mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainable growth).

Ia mendorong agar modal manusia, teknologi, dan keadilan sosial menjadi variabel utama dalam pembangunan ekonomi nasional kedepan. (**)

Berita Terkait

PT Pertamina Hulu Indonesia Kembali Menegaskan GEMAS DNA Baru Pelestarian Lingkungan di Zona 9
Dari Hutan Halimun Salak, Elpala Menjaga Warisan Alam Indonesia
Menkop Ziarah ke Makam Bung Hatta, Tegaskan Koperasi Harus Kembali Jadi Soko Guru Ekonomi
Dr. Budi Suryanto Gaungkan “Satu Tanah, Satu Surat, Satu Kepemilikan”, Solusi Akhiri Sengketa
Usai Teken Perjanjian Kerja Sama Dengan ABPEDNAS, SMSI Bergerak Bentuk Pokja News Room Jaga Desa
PHM Terima Kunjungan Danantara, Fokus Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Kejagung Sita Sebanyak Lebih dari 104 Ton Timah Milik Terpidana Aon, Nilainya Fantastis
Universitas Paramadina Satukan Pakar Bahas Masa Depan Pembangunan di Indonesia

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 03:32

PT Pertamina Hulu Indonesia Kembali Menegaskan GEMAS DNA Baru Pelestarian Lingkungan di Zona 9

Sabtu, 11 Juli 2026 - 03:13

Dari Hutan Halimun Salak, Elpala Menjaga Warisan Alam Indonesia

Sabtu, 11 Juli 2026 - 03:07

Menkop Ziarah ke Makam Bung Hatta, Tegaskan Koperasi Harus Kembali Jadi Soko Guru Ekonomi

Sabtu, 11 Juli 2026 - 02:55

Dr. Budi Suryanto Gaungkan “Satu Tanah, Satu Surat, Satu Kepemilikan”, Solusi Akhiri Sengketa

Jumat, 10 Juli 2026 - 02:56

PHM Terima Kunjungan Danantara, Fokus Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Berita Terbaru