Warning ‘Institutional Blindness’, Samuel F Silaen Sebut Penegak Hukum Telah Tersandera

Kamis, 11 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, sumatraterkini.id- Gelombang kritik tajam kini mengarah kepada institusi penegak hukum menyusul adanya indikasi pola pembiaran sistematis terhadap berbagai pelanggaran di daerah.

Sejumlah pengamat hukum, aktivis antikorupsi, dan elemen masyarakat sipil menyoroti bahwa pelanggaran hukum tersebut telah terjadi secara masif dan terstruktur.

Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Samuel F Silaen, menilai fenomena ini layaknya kondisi di mana seorang wasit merangkap sebagai pemain dalam pertandingan.

Menurutnya, kehancuran tatanan keadilan terjadi akibat adanya pembiaran terhadap pelanggaran kawan, sementara di sisi lain aparat bergerak cepat menyikat lawan.

Ketidakadilan ini dinilai berpotensi memicu gejolak perlawanan di tengah masyarakat karena sikap aparat penegak hukum yang dinilai tebang pilih dan tidak netral.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Samuel F Silaen kepada awak media, Rabu (10/6/2026).

Silaen juga menyoroti maraknya fenomena institutional blindness atau kebutaan institusional, di mana pelanggaran kasat mata sengaja diabaikan tanpa tindakan represif.

Lebih lanjut, dirinya menduga mandeknya fungsi penegakan hukum ini terjadi karena posisi para aparat yang saat ini sudah telanjur tersandera kepentingan tertentu.

Bedah Empat Indikator Pelemahan dan Kebutaan Hukum
Silaen menguraikan bahwa situasi saat ini bukan lagi sekadar masalah ketidakmampuan teknis aparat dalam melakukan penyelidikan perkara di lapangan.

Masalah ini telah berkembang menjadi pola pembiaran terstruktur di berbagai wilayah, di mana laporan masyarakat kerap diabaikan dengan alasan prosedural yang dicari-cari.

Publik kini menyoroti sedikitnya empat indikator utama yang memperkuat dugaan terjadinya pembiaran sistematis oleh aparat penegak hukum di tanah air.

Indikator pertama mencakup pengabaian bukti laporan mengenai dugaan kecurangan sistemik yang sering kali tidak ditindaklanjuti meski syarat formil telah terpenuhi.

Selanjutnya, indikator kedua ditandai oleh praktik diskriminasi hukum yang tebang pilih, di mana aktor dengan posisi kuat cenderung tidak tersentuh proses hukum.
Faktor ketiga berkaitan dengan erosi kepercayaan publik yang kian akut akibat sangat rendahnya responsivitas aparat terhadap pelanggaran berdampak masif.

Sementara itu, indikator keempat merujuk pada merosotnya integritas institusi yang dinilai para pakar dapat menjadi ancaman nyata bagi stabilitas negara.

“Ketika penegak hukum kehilangan fungsinya sebagai filter pelanggaran, maka hukum hanya akan menjadi instrumen kekuasaan, bukan instrumen keadilan,” ungkap Samuel F Silaen.

Ancaman Aksi Main Hakim Sendiri dan Desakan Reformasi Internal
Jika kondisi pembiaran ini terus berlanjut tanpa ada pembenahan, norma-norma hukum dikhawatirkan akan kehilangan makna filosofisnya secara total.

Dampak ekstremnya, hilangnya pegangan masyarakat terhadap keadilan dinilai dapat memicu terjadinya aksi main hakim sendiri sebagai konsekuensi logis ketidakpercayaan publik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan ataupun klarifikasi resmi yang dikeluarkan oleh jajaran pimpinan lembaga penegak hukum terkait tudingan tersebut.
Di sisi lain, gelombang desakan dari elemen sipil agar segera dilakukan proses audit independen terhadap kinerja aparat kini semakin menguat di ruang publik.

Masyarakat menuntut adanya transparansi penuh serta mendesak agar fungsi pengawasan internal seperti Dewan Pengawas benar-benar bekerja mengevaluasi setiap pelanggaran.

Kini mata publik tetap tertuju pada langkah nyata aparat untuk menentukan apakah mereka akan segera bangkit menegakkan hukum atau kian terjerembap dalam narasi pembiaran. (**)

Berita Terkait

8 Anggota OPM Kembali ke NKRI di Kiwirok, Serahkan Senjata dan Ikrar Setia
Marsda TNI Budhi Achmadi, M. Sc: Ekonomi Pertahanan Harus Jadi Mesin Pertumbuhan Nasional
Jusuf Kalla Ingatkan Ancaman Krisis Ekonomi, Soroti Kepercayaan Pasar hingga Efisiensi Anggaran
Di Tengah Tantangan Energi, PHM Sukses Operasikan Platform
Menkop Ferry Juliantono Tegaskan Kemitraan Swasta dan Koperasi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Dukung Akselerasi Infrastruktur Papua, TNI AD Bangun 6 Jembatan Garuda di Tiga Distrik
Gandeng Insan Pers, Puspen TNI Bedah Peran Yon TP hingga Program Koperasi Merah Putih
Dukung Trail of The Kings, Bumdesma Marsada Tahi Pimpin Aksi Bersih-bersih di Kawasan Pangururan

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:04

8 Anggota OPM Kembali ke NKRI di Kiwirok, Serahkan Senjata dan Ikrar Setia

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:41

Marsda TNI Budhi Achmadi, M. Sc: Ekonomi Pertahanan Harus Jadi Mesin Pertumbuhan Nasional

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:35

Jusuf Kalla Ingatkan Ancaman Krisis Ekonomi, Soroti Kepercayaan Pasar hingga Efisiensi Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:32

Di Tengah Tantangan Energi, PHM Sukses Operasikan Platform

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:28

Menkop Ferry Juliantono Tegaskan Kemitraan Swasta dan Koperasi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Berita Terbaru